Betapa kita berada di rasa belas kasihan Tuhan, dimana kita tiada daya menerima semua keputusanNya. Kita adalah pena yang digenggamNya, kita adalah boneka yang didalangiNya. Dimanakah posisi kita untuk menentukan takdir kita sendiri? Semua hal yang kita pikir adalah berkah dariNya, namun tiba-tiba semua itu berbalik menjadi cobaan untuk kita. Apakaha anugrah itu? Apakah cobaan itu? Atau apakah semua hidup ini adalah anugrah? Atau cobaan? Dimanakah titik kita bisa menentukan arti bahagia? Yang pasti itu tidak berada pada semua hal di dunia ini. Apapun itu.
Ada sebuah cerita tentang seseorang bernama Budi, mempunyai sebuah obsesi dalam hidup sebagai hal yang paling berharga untuknya. Dia bercita-cita ingin menjadi seorang actor. Dia tak pernah melewatkan pentas seni di SMU. Suatu hari RT kita menggelar opret Siti Nurbaya untuk pentas seni 17 agustus tahun 1998. Semua orang begitu terpesona melihat aktingnya. Dia akan menjadi Matias Muchus berikutnya, begitu kata Pak RT. Semua orang yang mengenalnya pun mengetahui bakatnya. Namun tidak begitu dengan ayahnya. Dia akan menjadi seorang dokter, kata ayahnya. Tak heran dia begitu marah ketika Budi ingin kuliah di sebuah Institut Kesenian di luar kota. Tak mungkin seorang keluar dari lulusan Institut Kesenian, dan itu tak sesuai dengan “keinginan” ayahnya. Budi yang seorang anak tunggal di keluarganya, memutuskan untuk keluar dari rumah dan tinggal mandiri dan mencoba hidup dari bakat aktingnya. Puluhan atau bahkan ratusan casting diikutinya. Namun yang Budi tidak sadari adalah dia tidak diberkahi Tuhan dengan wajah yang begitu tampan, setidaknya dalam penilaian sebuah kamera. Budi tumbuh sebagai lelaki dengan tubuh yang sedikit kecil dibanding dengan teman sebayanya, dan wajahnya yang jerawatan dan kulit yang, ya tidak sesuai profil iklan Nivea. Sutradara dan juri casting tidak begitu tertarik dengan Budi, walau mereka terlihat menilai baik bakatnya. Budi susah mendapat peran. Semua castingnya gagal. Dia berakhir dengan keputusasaan, dan dalam satu tahun, tujuh bulan, empat belas hari, Budi memutuskan pulang. Namun niat baiknya untuk meminta maaf kepada kedua orangtuanya tidak begitu disambut begitu baik oleh sang Ayah. Dia tidak diterima kembali oleh ayahnya.
Kini Budi mendapat sebuah dorongan baru untuk membuktikan kepada ayahnya, bahwa dia bisa mencapai impiannya. Dia kontak kembali semua sutradara dan juri-juri casting yang dia kenal, dan memohon untuk sebuah peran untuk dia mainkan. Akhirnya berkat kegigihannya dia mendapatkan peran. Tak lama kemudian, dia menjadi wajah yang bersahabat di televisi. Semua orang mengenalnya, semua orang mengaguminya. Karir pun terus menanjak. Dia pun mulai main di layar lebar. Dia kini sangat terkenal. Dalam dua tahun lebih dia hampir membuktikan kata-kata Pak RT dulu, ‘Matias Muchus berikutnya’. Namun ketenarannya adalah suatu hal yang membunuh di rumah orangtuanya. Ibunya, yang dari pertama tidak menyetujui keluarnya Budi dari rumah, menjadi stress, dan terpaksa dirawat oleh seorang psikiater. Tiga hari setelah mulai ditayangkannya film layar lebar Budi yang kedua, sang bunda bunuh diri. Seutas tali raffia yang diikat dikusen pintu kamar Budi, mengakhiri hidupnya. Budi kehilangan seseorang yang begitu dia cintai dan mencintainya, satu-satunya orang yang dia hormati dan selalu dengarkan kata-katanya. Namun Budi tak punya siapa-siapa untuk berbagi kedukaaannya. Dia selalu menutupi kehidupan pribadinya dari gemerlap berita selebriti. Tak lama kemudian ketenaran Budi bukan hanya soal bakat dan prestasinya. Dia mulai dikenal sebagai artis pemadat. Berkali-kali dia masuk TV karena kasus narkoba. Lima tahun memasuki karirnya, Budi meninggal dunia akibat over dosis di dalam kamar sebuah hotel kelas melati .
Apakah impian kita membuat kita bahagia? Apakah obsesi kita yang terpenuhi menjadikan kita manusia seutuhnya? Apa yang membuat kita bahagia? Apa arti BAHAGIA? Ayah Budi begitu berpegangan kepada keyakinannya masa depan Budi versinya akan mebahagiakan dirinya, namun membuat anak dan istrinya menghilang dari hidupnya. Budi begitu berpegangan kepada impiannya, sehingga membuat dia kehilangan ibunya yang begitu dia cintai. Dan sang bunda, kehilangan satu-satunya permata kehidupannya, memutuskan untuk mengakhiri kehidupannya. Apa yang membuat kita bahagia? Apa arti BAHAGIA?






