Featured Video

K'NAAN - Bang Bang ft. Adam Levine

Most Precious


Ada pepatah lama yang sangat populer, begitu populer saya jadikan kata-kata itu sebagai pegangan hidupku. Pepatah itu berbunyi, hidup itu seperti roda, terkadang di atas, terkadang di bawah. Ya mungkin, anda akan tertawa saat ini mendengar pepatah kuno yang begitu umum yang saya jadikan pegangan hidup. Tapi jika dipikirkan betapa hidup itu begitu cepat berubah, secepat berubahnya suasana hati anda tiap hari. Terkadang anda senang, terkadang anda sedih. Terkadang anda begitu bahagia, mengetahui bahwa anda memiliki semua yang anda butuhkan dalam hidup ini, tetapi keesokan harinya anda akan sangat sedih bahwa semua yang anda banggakan dan membuat anda bahagia hilang begitu saja. Ya, hilang begitu saja. Lalu anda tenggelam dalam keputus asaan, tanpa pegangan, tanpa tujuan. Mau kemana hidup ini? Pikirkan hidup anda, apa yang anda pikir begitu berharga, dan membuat anda bahagia. Apakah itu jabatan anda, suami atau istri anda, anak anda, atau bahkan binatang peliharaan anda? Lalu bayangkan semua itu hilang begitu saja. Dalam hitungan detik semua hilang. Tak ada lagi jabatan yang membuat anda terhormat, tak ada lagi tawa orang-orang yang anda cintai, dan tak ada lagi gonggongan anjing anda yang menyambut anda setiap anda pulang.


Betapa kita berada di rasa belas kasihan Tuhan, dimana kita tiada daya menerima semua keputusanNya. Kita adalah pena yang digenggamNya, kita adalah boneka yang didalangiNya. Dimanakah posisi kita untuk menentukan takdir kita sendiri? Semua hal yang kita pikir adalah berkah dariNya, namun tiba-tiba semua itu berbalik menjadi cobaan untuk kita. Apakaha anugrah itu? Apakah cobaan itu? Atau apakah semua hidup ini adalah anugrah? Atau cobaan? Dimanakah titik kita bisa menentukan arti bahagia? Yang pasti itu tidak berada pada semua hal di dunia ini. Apapun itu.

Ada seseorang yang mencoba mematahkan pepatah kuno pegangan hidup saya. Orang itu berkata, hidup itu seperti naik ke puncak gunung. Kita akan selalu ke atas, dan kita akan terus maju. Namun sepertinya orang itu tak pernah naik gunung sama sekali. Pemanjat gunung yang professional pun tahu, memanjat gunung adalah satu hal, tetapi menuruni adalah satu hal yang berbeda sama sekali. Sesaat kita sudah di puncak gunung, kita hanya bisa mengagumi semua keindahan yang terlihat dari atas puncak gunung. Takjub atas betapa berharganya hidup ini untuk dilepas, untuk tidak dinikmati. Mulut ternganga dan tiada habis kita akan teriak kata “wow” dan teriak puas karena telah mencapai puncak dunia. Lalu apa? Puncak itu bukanlah tempat untuk kita berhenti. Bukan tempat untuk kita tinggali. Dia hanyalah satu tempat persinggahan, dari perjalanan panjang yang masing-masing kita hanya bisa mengerti. Lalu kita pun turun gunung lagi. Dan sesungguhnya makna pencapaian itu hanyalah terasa di kehidupan sehari-hari, sebagai suatu pelajaran untuk hidup ini bisa lebih baik lagi.
Ada sebuah cerita tentang seseorang bernama Budi, mempunyai sebuah obsesi dalam hidup sebagai hal yang paling berharga untuknya. Dia bercita-cita ingin menjadi seorang actor. Dia tak pernah melewatkan pentas seni di SMU. Suatu hari RT kita menggelar opret Siti Nurbaya untuk pentas seni 17 agustus tahun 1998. Semua orang begitu terpesona melihat aktingnya. Dia akan menjadi Matias Muchus berikutnya, begitu kata Pak RT. Semua orang yang mengenalnya pun mengetahui bakatnya. Namun tidak begitu dengan ayahnya. Dia akan menjadi seorang dokter, kata ayahnya. Tak heran dia begitu marah ketika Budi ingin kuliah di sebuah Institut Kesenian di luar kota. Tak mungkin seorang keluar dari lulusan Institut Kesenian, dan itu tak sesuai dengan “keinginan” ayahnya. Budi yang seorang anak tunggal di keluarganya, memutuskan untuk keluar dari rumah dan tinggal mandiri dan mencoba hidup dari bakat aktingnya. Puluhan atau bahkan ratusan casting diikutinya. Namun yang Budi tidak sadari adalah dia tidak diberkahi Tuhan dengan wajah yang begitu tampan, setidaknya dalam penilaian sebuah kamera. Budi tumbuh sebagai lelaki dengan tubuh yang sedikit kecil dibanding dengan teman sebayanya, dan wajahnya yang jerawatan dan kulit yang, ya tidak sesuai profil iklan Nivea. Sutradara dan juri casting tidak begitu tertarik dengan Budi, walau mereka terlihat menilai baik bakatnya. Budi susah mendapat peran. Semua castingnya gagal. Dia berakhir dengan keputusasaan, dan dalam satu tahun, tujuh bulan, empat belas hari, Budi memutuskan pulang. Namun niat baiknya untuk meminta maaf kepada kedua orangtuanya tidak begitu disambut begitu baik oleh sang Ayah. Dia tidak diterima kembali oleh ayahnya.
Kini Budi mendapat sebuah dorongan baru untuk membuktikan kepada ayahnya, bahwa dia bisa mencapai impiannya. Dia kontak kembali semua sutradara dan juri-juri casting yang dia kenal, dan memohon untuk sebuah peran untuk dia mainkan. Akhirnya berkat kegigihannya dia mendapatkan peran. Tak lama kemudian, dia menjadi wajah yang bersahabat di televisi. Semua orang mengenalnya, semua orang mengaguminya. Karir pun terus menanjak. Dia pun mulai main di layar lebar. Dia kini sangat terkenal. Dalam dua tahun lebih dia hampir membuktikan kata-kata Pak RT dulu, ‘Matias Muchus berikutnya’. Namun ketenarannya adalah suatu hal yang membunuh di rumah orangtuanya. Ibunya, yang dari pertama tidak menyetujui keluarnya Budi dari rumah, menjadi stress, dan terpaksa dirawat oleh seorang psikiater. Tiga hari setelah mulai ditayangkannya film layar lebar Budi yang kedua, sang bunda bunuh diri. Seutas tali raffia yang diikat dikusen pintu kamar Budi, mengakhiri hidupnya. Budi kehilangan seseorang yang begitu dia cintai dan mencintainya, satu-satunya orang yang dia hormati dan selalu dengarkan kata-katanya. Namun Budi tak punya siapa-siapa untuk berbagi kedukaaannya. Dia selalu menutupi kehidupan pribadinya dari gemerlap berita selebriti. Tak lama kemudian ketenaran Budi bukan hanya soal bakat dan prestasinya. Dia mulai dikenal sebagai artis pemadat. Berkali-kali dia masuk TV karena kasus narkoba. Lima tahun memasuki karirnya, Budi meninggal dunia akibat over dosis di dalam kamar sebuah hotel kelas melati .
Apakah impian kita membuat kita bahagia? Apakah obsesi kita yang terpenuhi menjadikan kita manusia seutuhnya? Apa yang membuat kita bahagia? Apa arti BAHAGIA? Ayah Budi begitu berpegangan kepada keyakinannya masa depan Budi versinya akan mebahagiakan dirinya, namun membuat anak dan istrinya menghilang dari hidupnya. Budi begitu berpegangan kepada impiannya, sehingga membuat dia kehilangan ibunya yang begitu dia cintai. Dan sang bunda, kehilangan satu-satunya permata kehidupannya, memutuskan untuk mengakhiri kehidupannya. Apa yang membuat kita bahagia? Apa arti BAHAGIA?